=) Miracle In December
Author: Hyunnie
Cast: Kim joon
myoen
Qory Muslimah
Gunawan Sanusi
Qory Muslimah
Gunawan Sanusi
Support cast:
member exo
Park Channyeol
Andre Zainab
Family (temukan yg lainnya di ff)
Park Channyeol
Andre Zainab
Family (temukan yg lainnya di ff)
Genre: romance,sad,family,hurt,comedy (maybe),friendship and
many other.
rating: 13 tahun and not NC!!
Length: chaptered..( first!)
rating: 13 tahun and not NC!!
Length: chaptered..( first!)
Summary..: bertahun-tahun aku menanti kehadirannya,
melakukan yang terbaik untuknya.. tapi apa balasannya?? Apakah dia menganggapku
sampah?! Aku tahu ini gila. Tapi kumohon hargailah usahaku.. aku membencinya
namun rasanya seperti menelan diriku sendiri.. aku tak sanggup aku tak bisa..
ku mohon tolonglah aku!
Hy! Semuanya.. di mohon untuk memberikan jejak setelah
membaca yah! Karena jika tanpa jejak tersebut author mungkin bakalan menggalau..
#mewek. Oh yah! Saran,kritikan atau apalah aku terima dengan senang hati,
kecuali meng-copy (plagiat) oh no!! Because that is not my style #jadi ingat
bang kris deh.. ya udah Happy Reading deh.. ^-^
MIND.. (Miracle IN December)
Entah sudah berapa lama gadis itu melamun, mungkin tepatnya
mengkhayal dengan diiringi musik yang menyumbat daun telinganya, yang terbalut
kerudung hitam sehingga terlihat senada dengan seragamnya saat ini. Gadis itu
memang tidak cantik namun ia manis, kulit sawo matangnya serta matanya membuat
ia masih PD walaupun hidungnya tidak mancung-mancung amat, singkatnya syukuri
apa yang ada, udah syukur fisik lengkap daripada cacat? Lebih parah lagi.
Qory POV..
seperti biasa jam istirahat kugunakan untuk makan sambil mendengarkan musik di hpku, agar tak mengganggu yang lain aku memilih untuk menyumbat telinga kiriku dengan headset. Pojok ruangan samping kaca adalah tempat faforitku di cafe Dream High. Kalau di hitung-hitung aku sudah bekerja part time di cafe ini selama 4 tahun ketika aku masih duduk di kelas 3 smp.
Dream High.. mungkin jika kalian mendengarnya kalian pasti akan teringat drama korea itukan? Itulah yang terfikir olehku dulu ketika aku pertama kali bekerja di sini. Apakah pemilik cafe salah satu penggemarnya? Sebenarnya sih iya, tapi ini juga di dasari oleh arti dari dream high, yang artinya mimpi yang tinggi. Maksudnya si bos ingin membuat semua orang yang berada di sini memiliki mimpi yang tinggi sehingga memiliki semangat untuk terus melanjutkan hidup. Siip deh bos! Bangunan ini bertingkat 2, di balkon adalah tempat yang paling sering di kunjungi orang yang pada mau menatap pemandangan malam bersama pasangannya, tak terkecuali sepasang kucing yang kemarin nongkrong di sana sambil nyantap ikan curian dari dapur. Oke kita kembali dengan keadaanku yang masih melamun.
Rasanya aku ingin sekali mencakar wajah pria itu. Siapa lagi kalau buka tuan Gunawan Sanusi, yang lebih sering ku panggil Wawan. Mungkin aku akan menjulukinya singa, bukan karena pesonanya tapi karena sifatnya yang sama seperti singa. Punya banyak betina. Kalo anak zaman sekarang bilang “sakitnya tuh disini” sorry tapi seorang qory bukanlah seorang anak yang alay walau terkadang agak lebay. Karena seorang qory tak bisa sama sekali bermain layangan.
seperti biasa jam istirahat kugunakan untuk makan sambil mendengarkan musik di hpku, agar tak mengganggu yang lain aku memilih untuk menyumbat telinga kiriku dengan headset. Pojok ruangan samping kaca adalah tempat faforitku di cafe Dream High. Kalau di hitung-hitung aku sudah bekerja part time di cafe ini selama 4 tahun ketika aku masih duduk di kelas 3 smp.
Dream High.. mungkin jika kalian mendengarnya kalian pasti akan teringat drama korea itukan? Itulah yang terfikir olehku dulu ketika aku pertama kali bekerja di sini. Apakah pemilik cafe salah satu penggemarnya? Sebenarnya sih iya, tapi ini juga di dasari oleh arti dari dream high, yang artinya mimpi yang tinggi. Maksudnya si bos ingin membuat semua orang yang berada di sini memiliki mimpi yang tinggi sehingga memiliki semangat untuk terus melanjutkan hidup. Siip deh bos! Bangunan ini bertingkat 2, di balkon adalah tempat yang paling sering di kunjungi orang yang pada mau menatap pemandangan malam bersama pasangannya, tak terkecuali sepasang kucing yang kemarin nongkrong di sana sambil nyantap ikan curian dari dapur. Oke kita kembali dengan keadaanku yang masih melamun.
Rasanya aku ingin sekali mencakar wajah pria itu. Siapa lagi kalau buka tuan Gunawan Sanusi, yang lebih sering ku panggil Wawan. Mungkin aku akan menjulukinya singa, bukan karena pesonanya tapi karena sifatnya yang sama seperti singa. Punya banyak betina. Kalo anak zaman sekarang bilang “sakitnya tuh disini” sorry tapi seorang qory bukanlah seorang anak yang alay walau terkadang agak lebay. Karena seorang qory tak bisa sama sekali bermain layangan.
Replay (MIND..)
“ yeah selesai...!!” aku bersorak gembira, akhirnya kelasku
bersih juga. Hari ini adalah piketku, tapi aku dapat bagian pulang sekolah.
Dengan langkah riang aku pergi meninggalkan kelas mendahului kedua temanku yang
sudah mulai bersiap mengikutiku. Niatnya aku ingin pulang bareng Wawan, murid
kelas tetangga, letaknya sebelah kanan dari kelasku yang berada di tengah. Baru
saja aku akan membuka pintu namun indera pendengaranku menangkap dua suara yang
sangat ku kenal.
“ Gita.. dan Wawan?” oh no! Apa yang dilakukan Gita dengan Wawan. Bukankah Wawan tahu bahwa aku bermusuhan denga Gita?
“ Lalu bagaimana dengan Qory?” tanya Gita.
“ Tentu saja aku akan meninggalkannya, gasis itu terlalu culun dan dia juga selalu menceritakan tentang artis-artis korea yang membuatku sakit kepala”
apa aku tak salah dengar? Itu suara Wawan! Aku memang tak menangis namun aku kecewa dengan perkataanya. Selama ini dia hanya berpura-pura padaku. Sebelum pergi, ku ambil ancang-ancang kemudian ku tendang pintu didepanku hingga membuat dua manusia di dalam kaget. Dari jauh dapat ku dengar langkah kaki mengejarku sambil terus memanggil manggil namaku. Untunglah saat itu aku bawa sepeda jadi aku tak perlu repot-repot berlari sampai rumah, karena aku tahu pria di belakangku sana pasti dapat menangkapku dengan kakinya yang bisa berlari dengan cepat.
“ Gita.. dan Wawan?” oh no! Apa yang dilakukan Gita dengan Wawan. Bukankah Wawan tahu bahwa aku bermusuhan denga Gita?
“ Lalu bagaimana dengan Qory?” tanya Gita.
“ Tentu saja aku akan meninggalkannya, gasis itu terlalu culun dan dia juga selalu menceritakan tentang artis-artis korea yang membuatku sakit kepala”
apa aku tak salah dengar? Itu suara Wawan! Aku memang tak menangis namun aku kecewa dengan perkataanya. Selama ini dia hanya berpura-pura padaku. Sebelum pergi, ku ambil ancang-ancang kemudian ku tendang pintu didepanku hingga membuat dua manusia di dalam kaget. Dari jauh dapat ku dengar langkah kaki mengejarku sambil terus memanggil manggil namaku. Untunglah saat itu aku bawa sepeda jadi aku tak perlu repot-repot berlari sampai rumah, karena aku tahu pria di belakangku sana pasti dapat menangkapku dengan kakinya yang bisa berlari dengan cepat.
Pov End.
“ Qolin.. Woy! Lu nape? Elu kesambet dedemit yeh?”
“ Iya, dedemitnya ada di depanku”
“ masa iya cowok secakep gua lu samain dengan dedemit”
“ terus masa iya aku nyamain kamu dengan Suho?”
“ Oh, iya besok kan pelulusan?” kali ini Andre mengganti topik dedemit mereka. Qory atau Qoli panggilan akrab cowok betawi di depannya hanya mengangguk. “ kalo lo bisa dapet beasiswa gua bakalan ajak lo nonton konser EXO”
“ Kamu fikir gampang? Aku memang selalu masuk 10 besar, tapi hanya 5 kali dapet juara umum.. coba ajah matematika gampang udah pasti aku dapat juara 1 mulu” Qory mulai menyesap susu coklat di hadapannya. Gadis itu memang lebih suka minum susu coklat dingin dibanding hangat.
“ Optimis nape neng?”
“ Ya, udah aku mau deh... tapi gimana dengan kerjaanku di sini?”
“ tenang enyak pasti mau deh.. pan kita udah bareng sejak masih mini”
“ kau fikir mini cornetto?”
“ pan manis tuh... yum.. jadi pengen makan ice cream deh” Andre menjilati bibirnya sendiri sambil membayangkan semangkuk ice cream manis. “ eh lupa.. udah waktunya kerja tuh” Andre menepuk jidatnya sendiri. Qory segera memakai celemeknya kemudian berlari kecil menuju meja pengunjung yang sudah terisi semenit yang tadi. Andre memang sahabat kecil Qory, ia tahu segala hal tentang gadis itu, tentang apa yang menimpa gadis keturunan korea Yogya itu. Krisis ekonomi membuat gadis itu harus kerja part time. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai tukang service dan ibunya yang bekerja di tempat loundry tidak dapat mencukupi semua kebutuhan mereka. Apalagi Qory memiliki seorang adik yang masih harus dibiayai, selain itu adiknya juga akan masuk SMA yang tentu mambutuhkan biaya yang tak sedikit.
Sedikit cerita masa lalu dari orang tua Qory tepatnya tuan Park Dong Joon, ayah Qory. Sebenarnya tuan Park adalah anak konglomerat di Korsel, tapi karena dia memilih untuk menjadi muallaf (tidak menyinggung siapapun) dan hidup dengan Siti Elviana ibu Qory. Sehingga ayah tuan Park memutuskan tali kekeluargaan dengan tuan Park, tak sampai di situ saja. Dengan kekuasaannya ia menyuruh agar semua rekan kerjanya tak menerima tuan Park. Alhasil, akhirnya ijazah itu hanya menjadi pajangan masa lalu tuan Park.
“ Iya, dedemitnya ada di depanku”
“ masa iya cowok secakep gua lu samain dengan dedemit”
“ terus masa iya aku nyamain kamu dengan Suho?”
“ Oh, iya besok kan pelulusan?” kali ini Andre mengganti topik dedemit mereka. Qory atau Qoli panggilan akrab cowok betawi di depannya hanya mengangguk. “ kalo lo bisa dapet beasiswa gua bakalan ajak lo nonton konser EXO”
“ Kamu fikir gampang? Aku memang selalu masuk 10 besar, tapi hanya 5 kali dapet juara umum.. coba ajah matematika gampang udah pasti aku dapat juara 1 mulu” Qory mulai menyesap susu coklat di hadapannya. Gadis itu memang lebih suka minum susu coklat dingin dibanding hangat.
“ Optimis nape neng?”
“ Ya, udah aku mau deh... tapi gimana dengan kerjaanku di sini?”
“ tenang enyak pasti mau deh.. pan kita udah bareng sejak masih mini”
“ kau fikir mini cornetto?”
“ pan manis tuh... yum.. jadi pengen makan ice cream deh” Andre menjilati bibirnya sendiri sambil membayangkan semangkuk ice cream manis. “ eh lupa.. udah waktunya kerja tuh” Andre menepuk jidatnya sendiri. Qory segera memakai celemeknya kemudian berlari kecil menuju meja pengunjung yang sudah terisi semenit yang tadi. Andre memang sahabat kecil Qory, ia tahu segala hal tentang gadis itu, tentang apa yang menimpa gadis keturunan korea Yogya itu. Krisis ekonomi membuat gadis itu harus kerja part time. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai tukang service dan ibunya yang bekerja di tempat loundry tidak dapat mencukupi semua kebutuhan mereka. Apalagi Qory memiliki seorang adik yang masih harus dibiayai, selain itu adiknya juga akan masuk SMA yang tentu mambutuhkan biaya yang tak sedikit.
Sedikit cerita masa lalu dari orang tua Qory tepatnya tuan Park Dong Joon, ayah Qory. Sebenarnya tuan Park adalah anak konglomerat di Korsel, tapi karena dia memilih untuk menjadi muallaf (tidak menyinggung siapapun) dan hidup dengan Siti Elviana ibu Qory. Sehingga ayah tuan Park memutuskan tali kekeluargaan dengan tuan Park, tak sampai di situ saja. Dengan kekuasaannya ia menyuruh agar semua rekan kerjanya tak menerima tuan Park. Alhasil, akhirnya ijazah itu hanya menjadi pajangan masa lalu tuan Park.
MIND..... T-T
Mungkin kalian akan menganggap gadis itu sudah tak waras.
Bagaiman tidak? Seorang gadis berumur 17 tahun tengah berteriak histeris sambil
melompat-lompat kegirangan, ia memeluk ketiga manusia di hadapannya tanpa
mempedulikan orang-orang di sekitar mereka. Tapi maklum saja, dia seperti itu,
pasalnya gadis itu baru saja lulus dan mendapat beasiswa ke Korea selatan di
seoul national university, universitas terbaik di sana. Semua biaya di tanggung
oleh pihak penyelenggara, terkecuali untuk biaya tempat tinggal dan makan.
Namun bukan hanya Qory yang berangkat, ia akan berangkat bersama kedua orang
lainnya yaitu Yumiko Keiko dan Parlina Frans.
Ibu yang mulai sesak menegur Qory agar melepas pelukkannya.
“ Ibu aku akan berangkat ke Korea!! Aku akan bertemu artis Korea...!” pekik Qory girang.
“ Iya hati-hatillah di sana.. ayah akan mengirimmu uang, dan untuk masalah tempat tinggal tenang saja ayah punya uang simpanan ..” tuan Park tersenyum pada putri sulungnya itu.
“ Hey! Kak.. apa kau bisa bahasa Korea?” kini Alif yang bertanya pada Qory.
“ Bisa dong..” Qory menepuk-nepuk dadanya. “ oh yah! Aku mau menagih janji” Qory segera berlari meninggalkan ketiga orang itu menuju kumpulan anak laki-laki yang sedang tertawa terbahak-bahak. “ Andre.. janjimu mana?” Qory berteriak pada Andre, refleks laki-laki itu berbalik.
“ selamat yah Qoli” Andre tersenyum pada Qory, kemudian ia mengambil sesuatu dari jaket hitamnya. “ aku sudah memesannya untukmu” Qory terperangah tak percaya. Itukan tiket konser EXO di Indonesia. “ Kita akan berangkat besok, kata enyak kita bakalan nginap di rumah engkong gua Haji Dulloh.. lu tau kagak?” Qory mengannguk semangat. Mana mungkin ia melupakan Haji Dulloh, orang yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri. Dulu ketika SD, ia dan Andre sering manjatin pohon mangga milik Haji Dulloh, tapi Haji Dulloh tak pernah marah. “ Ya, udah besok pagi-pagi Bang Billy bakal jemput lo, awas jangan telat!”
“ Siippp! Bos” Qory memberi hormat pada Andre seperti murid-murid yang sedang melaksanakan upacara. Lalu berbalik menuju ayah dan ibu yang mulai beranjak untuk pulang. Hari ini adalah hari terindah yang pernah ada di daftar hidupnya.
Ibu yang mulai sesak menegur Qory agar melepas pelukkannya.
“ Ibu aku akan berangkat ke Korea!! Aku akan bertemu artis Korea...!” pekik Qory girang.
“ Iya hati-hatillah di sana.. ayah akan mengirimmu uang, dan untuk masalah tempat tinggal tenang saja ayah punya uang simpanan ..” tuan Park tersenyum pada putri sulungnya itu.
“ Hey! Kak.. apa kau bisa bahasa Korea?” kini Alif yang bertanya pada Qory.
“ Bisa dong..” Qory menepuk-nepuk dadanya. “ oh yah! Aku mau menagih janji” Qory segera berlari meninggalkan ketiga orang itu menuju kumpulan anak laki-laki yang sedang tertawa terbahak-bahak. “ Andre.. janjimu mana?” Qory berteriak pada Andre, refleks laki-laki itu berbalik.
“ selamat yah Qoli” Andre tersenyum pada Qory, kemudian ia mengambil sesuatu dari jaket hitamnya. “ aku sudah memesannya untukmu” Qory terperangah tak percaya. Itukan tiket konser EXO di Indonesia. “ Kita akan berangkat besok, kata enyak kita bakalan nginap di rumah engkong gua Haji Dulloh.. lu tau kagak?” Qory mengannguk semangat. Mana mungkin ia melupakan Haji Dulloh, orang yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri. Dulu ketika SD, ia dan Andre sering manjatin pohon mangga milik Haji Dulloh, tapi Haji Dulloh tak pernah marah. “ Ya, udah besok pagi-pagi Bang Billy bakal jemput lo, awas jangan telat!”
“ Siippp! Bos” Qory memberi hormat pada Andre seperti murid-murid yang sedang melaksanakan upacara. Lalu berbalik menuju ayah dan ibu yang mulai beranjak untuk pulang. Hari ini adalah hari terindah yang pernah ada di daftar hidupnya.
MIND... T-T
Sebuah koper berukuran sedang dan sebuah backpack biru sudah
terpajang di ruang tamu menunggu empunya selesai dengan urusannya. Gadis itu
terlihat kalang kabut di kamar mencari pakaian apa yang cocok ia kenakan untuk
berangkat dan barang apa saja yang belum ia masukkan. Seperti biasa Qory pasti
mandi sambil dance hingga lupa waktu. Berkali-kali ia melihat jam tangannya dan
itu membuatnya bertambah acak-acakkan.
“ Kak aku bantu yah!” Alif segera membantu kakaknya mencari pakaian yang cocok dan barang apa saja yang akan di bawa gadis itu. “ Kak, kata ibu dari jakarta kakak akan langsung ke Korea yah?” Qory hanya mengangguk cepat, tangannya masih sibuk membolak balikkan tumpukan buku di hadapannya. “kenapa tidak berangkat bareng rombongan?”
“ kakak pengen nonton konser EXO!!” Qory mengambil pakaian pilihan Alif kemudian menggantinya di kamar mandi.
“ dia bahkan tidak bisa memilih pakaiannya” gumam Alif. “ Hey kak cepat.. 30 menit lagi pesawat berangkat loh!!..” teriak Alif di depan pintu kamar mandi membuat Qory bertambah panik.
“ Mwo..?!” Qory segera mengganti bajunya dengan gerakan cepat tak peduli bagaimana nanti hasilnya yang penting ia sudah berpakaian. Setelah itu Qory segera berlari mengambil roti di meja yang bahkan belum di olesi apa-apa, langkahnya ia percepat ketika melihat supir pribadi Andre sedang uring-uringan di teras bersama tuan Park. Bang Billy yang sudah melihat sosok astral Qory langsung berlari mengikuti Qory yang sudah duluan masuk mobil. Baru saja bang Billy memutar kunci namun keburu Qory berteriak.
“ Wait!... Bang, Qory pamit dulu yah sama ayah, ibu dan si alif ba ta” Bang Billy hanya mengangguk ia sudah paham betul watak anak gadis itu. Qory segera berlari menuju ayah, ibu dan Alif kemudian memeluk mereka dengan erat. “ ayah ibu.. Qory pamit yah.. doain Qory supaya jadi orang sukses, Qory pengen buktiin ke kakek kalo kita bisa sukses tanpa uluran tangannya.. jika Qory bertemu dengan kakek Qory bakalan bilang ke kakek kalo kita bisa hidup tanpanya” ucap Qory semangat.
“ amin..” ucap ayah dan ibu kompak. Setelah itu ia mecium ayah, ibu dan Alif dan segera berlari menuju mobil. Meyisakan ketiga orang di teras rumah. Mereka terus saja melambaikan tangan padahal sudah jelas mobil hitam itu sudah tak terlihat lagi.
“ jagalah dirimu baik-baik anakku..” ibu menangis, matanya terus menatap jalanan yang tadi di lalui mobil hitam milik keluarga Zainab tersebut. Tuan Park merangkul lengan ibu ke kedalam di ikuti Alif yang juga memperlakukan ibunya sama seperti tuan Park.
“ Kak aku bantu yah!” Alif segera membantu kakaknya mencari pakaian yang cocok dan barang apa saja yang akan di bawa gadis itu. “ Kak, kata ibu dari jakarta kakak akan langsung ke Korea yah?” Qory hanya mengangguk cepat, tangannya masih sibuk membolak balikkan tumpukan buku di hadapannya. “kenapa tidak berangkat bareng rombongan?”
“ kakak pengen nonton konser EXO!!” Qory mengambil pakaian pilihan Alif kemudian menggantinya di kamar mandi.
“ dia bahkan tidak bisa memilih pakaiannya” gumam Alif. “ Hey kak cepat.. 30 menit lagi pesawat berangkat loh!!..” teriak Alif di depan pintu kamar mandi membuat Qory bertambah panik.
“ Mwo..?!” Qory segera mengganti bajunya dengan gerakan cepat tak peduli bagaimana nanti hasilnya yang penting ia sudah berpakaian. Setelah itu Qory segera berlari mengambil roti di meja yang bahkan belum di olesi apa-apa, langkahnya ia percepat ketika melihat supir pribadi Andre sedang uring-uringan di teras bersama tuan Park. Bang Billy yang sudah melihat sosok astral Qory langsung berlari mengikuti Qory yang sudah duluan masuk mobil. Baru saja bang Billy memutar kunci namun keburu Qory berteriak.
“ Wait!... Bang, Qory pamit dulu yah sama ayah, ibu dan si alif ba ta” Bang Billy hanya mengangguk ia sudah paham betul watak anak gadis itu. Qory segera berlari menuju ayah, ibu dan Alif kemudian memeluk mereka dengan erat. “ ayah ibu.. Qory pamit yah.. doain Qory supaya jadi orang sukses, Qory pengen buktiin ke kakek kalo kita bisa sukses tanpa uluran tangannya.. jika Qory bertemu dengan kakek Qory bakalan bilang ke kakek kalo kita bisa hidup tanpanya” ucap Qory semangat.
“ amin..” ucap ayah dan ibu kompak. Setelah itu ia mecium ayah, ibu dan Alif dan segera berlari menuju mobil. Meyisakan ketiga orang di teras rumah. Mereka terus saja melambaikan tangan padahal sudah jelas mobil hitam itu sudah tak terlihat lagi.
“ jagalah dirimu baik-baik anakku..” ibu menangis, matanya terus menatap jalanan yang tadi di lalui mobil hitam milik keluarga Zainab tersebut. Tuan Park merangkul lengan ibu ke kedalam di ikuti Alif yang juga memperlakukan ibunya sama seperti tuan Park.
MIND.. T-T
Sesampainya mereka di
bandara, Qory langsung turun kemudian menggendong backpacnya sedangkan si koper
ia biarkan Bang Billy yang mengurusnya. Ia berlari mencari Andre yang sudah menunggunya
30 menit yang tadi. Matanya memandang frustasi pada jam tangan.
“ 10 menit lagi” gumam Qory, akhirnya setelah adu cepat dengan waktu Qory nampak sumringah ketika kedua bola matanya melihat sosok Andre yang sedang sibuk dengan majalah di tangannya.
“ Woy.. Andre!” Qory melambaikan tangannya ke arah Andre, membuat yang di panggil menoleh ke arah asal suara. Qory berlari ke arah Andre, kemudian mendudukkan dirinya di samping Andre.
“ Lama amat sih? Ngapain ajah lo di rumah?” tanya Andre mirip emak-emak yang lagi ngomelin anaknya. Terdakwa Qory hanya terkekeh plus WATADOSnya yang bikin Andre berasa pengen menjitak bocah di hadapannya saat ini. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang menandakan bahwa para penumpang pesawat harus segera menempati kursi mereka. “ Qoli, lo kagak mabok pesawat pan?” tanya Andre begitu mereka memasuki pesawat.
“ taulah masalahnya aku belum pernah naik pesawat sih..”
“ ya udah, sepanjang perjalanan lo ngorok ajah atau nggak lo nonton ajah.. gua gak mau dapet masalah gara-gara lo.. gua udah tobat kena muntah waktu kita ke Donggala”
“ okelah kalo begonoh boss..” jawab Qory dengan nada lebay khas ABG sok unyu-unyu #najess.
selama di perjalanan Qory hanya tertidur, sesekali ia terbangun untuk makan, ke WC ataupun hanya menanyakan pada Andre apakah mereka sudah sampai di Jakarta, kemudian ia kembali tertidur dengan kepala menghadap jendela.
“ 10 menit lagi” gumam Qory, akhirnya setelah adu cepat dengan waktu Qory nampak sumringah ketika kedua bola matanya melihat sosok Andre yang sedang sibuk dengan majalah di tangannya.
“ Woy.. Andre!” Qory melambaikan tangannya ke arah Andre, membuat yang di panggil menoleh ke arah asal suara. Qory berlari ke arah Andre, kemudian mendudukkan dirinya di samping Andre.
“ Lama amat sih? Ngapain ajah lo di rumah?” tanya Andre mirip emak-emak yang lagi ngomelin anaknya. Terdakwa Qory hanya terkekeh plus WATADOSnya yang bikin Andre berasa pengen menjitak bocah di hadapannya saat ini. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang menandakan bahwa para penumpang pesawat harus segera menempati kursi mereka. “ Qoli, lo kagak mabok pesawat pan?” tanya Andre begitu mereka memasuki pesawat.
“ taulah masalahnya aku belum pernah naik pesawat sih..”
“ ya udah, sepanjang perjalanan lo ngorok ajah atau nggak lo nonton ajah.. gua gak mau dapet masalah gara-gara lo.. gua udah tobat kena muntah waktu kita ke Donggala”
“ okelah kalo begonoh boss..” jawab Qory dengan nada lebay khas ABG sok unyu-unyu #najess.
selama di perjalanan Qory hanya tertidur, sesekali ia terbangun untuk makan, ke WC ataupun hanya menanyakan pada Andre apakah mereka sudah sampai di Jakarta, kemudian ia kembali tertidur dengan kepala menghadap jendela.
MIND... T-T
Walaupun berjalan agak terkantuk-kantuk setidaknya Qory
tidak terjatuh apalagi menabrak orang lain di sana. Namun tetap saja Andre
khwatir, berkali-kali ia mengguncangkan bahu gadis itu namun Qory hanya
melambaikan tangannya sambil berkata “i’m fine”. Mereka sudah mendarat di
bandara Soekarno-Hatta beberapa menit tadi. Kini mereka berdua tengah menunggu
HJ. Dulloh di sebuah cafe. Qory yang masih mengantuk memilih untuk tidur, tanggannya
ia sedekapkan untuk dijadikan bantal di meja sedangkan Andre ia memilih untuk
memakan roti coklat sambil membaca majalah yang tadi sempat tertunda. 15 menit
kemudian Hp Andre berdering membuatnya harus mengobrak-abrik seluruh sakunya.
“Ahha!” Andre tersenyum girang ketika tangan kananya tengah memegang Hp yang ia
cari. “ Oh... dari engkong toh...” Andre manggut-manggut membaca kontak sang
pengirim. “ Woy.. putri tidur bangon!!” Andre mengguncang-guncang bahu Qory
membuat gadis itu terbangun namun dengan wajah orang bingung.
“ Ada apa?” tanyanya dengan mata merem.
“ gempaa bumi tornado halilintar...” Ucap Andre ketus.
“ Oh...” Qory kembali menaruh kepalanya di meja.
“ Woy, gua tinggalin nih.. engkong gua udah nungguin tuh di parkiran” Andre berjalan meninggalkan Qory yang mulai bangun. Dengan langkah malas khas orang baru bangun tidur ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Andre.
“ Ada apa?” tanyanya dengan mata merem.
“ gempaa bumi tornado halilintar...” Ucap Andre ketus.
“ Oh...” Qory kembali menaruh kepalanya di meja.
“ Woy, gua tinggalin nih.. engkong gua udah nungguin tuh di parkiran” Andre berjalan meninggalkan Qory yang mulai bangun. Dengan langkah malas khas orang baru bangun tidur ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Andre.
MIND... T-T
Sore ini Qory dan Andre tiba di tempat konser, mereka
sengaja datang lebih cepat karena Qory yang memintanya. Ia bilang ada sesuatu
yang ingin ia berikan pada Suho, idolanya.
“ belum mulai yah konsernya?” tanya Qory pada Andre yang sibuk dengan kerak telor di hadapannya.
“ bentar lagi neng.. eh itu apaan?” tanya Andre yang sudah selesai dengan kerak telor miliknya. Qory melirik sebentar pada kotak kado benbentuk segi enam berwarna abu-abu di pangkuannya.
“ ini syal dan topi buatanku sendiri untuk suho oppa..”
“ Heeh.. gua kira buat gua” ucap Andre malas. Tiba-tiba Qory berlari meninggalkan Andre. “ Eh.. mau kemana Qoli?” tanya Andre ketika melihat Qory mulai menjauh. Dengan gerakan cepat Qory berbalik sambil tersenyum.
“ Tunggu saja di situ aku ada urusan penting.. sms kalo udah masuk yah..” setelah berteriak, Qory segera berbalik lalu melanjutkan larinya menuju gedung konser.
“ tuh anak kemana yah?” Andre menggaruk-garuk lehernya. “ Ah jangan-jangan..”
“ belum mulai yah konsernya?” tanya Qory pada Andre yang sibuk dengan kerak telor di hadapannya.
“ bentar lagi neng.. eh itu apaan?” tanya Andre yang sudah selesai dengan kerak telor miliknya. Qory melirik sebentar pada kotak kado benbentuk segi enam berwarna abu-abu di pangkuannya.
“ ini syal dan topi buatanku sendiri untuk suho oppa..”
“ Heeh.. gua kira buat gua” ucap Andre malas. Tiba-tiba Qory berlari meninggalkan Andre. “ Eh.. mau kemana Qoli?” tanya Andre ketika melihat Qory mulai menjauh. Dengan gerakan cepat Qory berbalik sambil tersenyum.
“ Tunggu saja di situ aku ada urusan penting.. sms kalo udah masuk yah..” setelah berteriak, Qory segera berbalik lalu melanjutkan larinya menuju gedung konser.
“ tuh anak kemana yah?” Andre menggaruk-garuk lehernya. “ Ah jangan-jangan..”
MIND...
Seorang petugas kebersihan dengan tenang berjalan di antara
pintu-pintu, ia terus mendorong keranjang yang berisikan alat-alat kebersihan
tersebut. Sesekali ia celingak-celinguk seperti seseorang yang sedang mencari
sesuatu. Tiba-tiba roda keranjang itu terhenti bersamaan dengan langkahnya yang
juga terhenti. Seulas senyum mengembang di wajahnya. walaupun agak canggung ia
berusaha semaksimal mungkin agar terlihat santai. Langkahnya ia percepat menuju
seorang pria yang tengah berbicara dengan pria di sampingnya.
“ pe..pp..permisi.” ucapnya terbata-bata. Pria itu menghentikan obrolannya ia lalu menoleh ke arah seorang petugas kebersihan yang terus menundukkan kepalanya.
“Nde? Oh sorry... “
“ ah, tidak apa-apa aku mengerti bahasa Korea kok..” cepat-cepat petugas kebersihan itu memotong kalimat pria di hadapannya yang tak lain adalah Suho.
“ wah! Benarkah..? heh lega juga akhirnya aku bisa memakai bahasa Korea.. aku capek bila menggunakan bahasa Inggris terus..” Suho tersenyum girang membuat orang dihadapannya membatu seperti patung. “ oh, yah.. namamu..” Suho melirik ke arah name tag petugas kebersihan tersebut. “ Ah! Milli..! ada apa?” tanya Suho yang membuat gadis itu agak terkejut. Ia terkekeh sebentar merutuki dirinya sendiri yang sempat terlihat seperti orang bodoh yang di ajari matematika dengan sejuta rumusnya yang bisa membuat kepala meledak.
“ oh, ini” Milli mengeluarkan sebuah bungkus kado berwana abu-abu berbentuk segi enam dari dalam keranjang, lalu ia memberikannya pada Suho. “aku fansmu.. kumohon terimalah hadiah dariku ini aku sudah menantimu semenjak awal debutmu, ku mohon” Milli menunduk tangannya maju kedepan mengharap Suho menerima hadiah darinya.
“ Gomawo” suho mengambil kotak itu sambil tersenyum. Milli alias Qory sangat senang ketika hadiah itu berpindah tangan. Buru-buru Qory beranjak dari Suho, ia takut kalau sampai Suho melihatnya meloncat-loncat girang. Sesampainya ia di sebuah ruangan seorang wanita memberikannya kode.
“Ssst... ssstt”
“ Oh, nona Milli terimakasih.. ini hadiah untukmu” Qory tersenyum girang pada wanita itu, ia mengeluarkan selembar uang ratusan kemudian memberikannya pada wanita bernama Milli tersebut. Dengan gerakan cepat kini mereka sudah keluar dari ruangan tersebut dengan pakainnya masing-masing.
Qory berlari ke tempat ia tadi meninggalkan Andre namun nihil pria itu tak ada di tempatnya. Berkali-kali Qory memanggil nama Andre namun pria itu tak kunjung datang. Hingga ringtone Hpnya berbunyi membuat Qory dengan cepat mengambil Hp di saku bajunya ia berharap orang itu adalah Andre. Benar saja ternyata ada satu pesan dari Andre.
“ pe..pp..permisi.” ucapnya terbata-bata. Pria itu menghentikan obrolannya ia lalu menoleh ke arah seorang petugas kebersihan yang terus menundukkan kepalanya.
“Nde? Oh sorry... “
“ ah, tidak apa-apa aku mengerti bahasa Korea kok..” cepat-cepat petugas kebersihan itu memotong kalimat pria di hadapannya yang tak lain adalah Suho.
“ wah! Benarkah..? heh lega juga akhirnya aku bisa memakai bahasa Korea.. aku capek bila menggunakan bahasa Inggris terus..” Suho tersenyum girang membuat orang dihadapannya membatu seperti patung. “ oh, yah.. namamu..” Suho melirik ke arah name tag petugas kebersihan tersebut. “ Ah! Milli..! ada apa?” tanya Suho yang membuat gadis itu agak terkejut. Ia terkekeh sebentar merutuki dirinya sendiri yang sempat terlihat seperti orang bodoh yang di ajari matematika dengan sejuta rumusnya yang bisa membuat kepala meledak.
“ oh, ini” Milli mengeluarkan sebuah bungkus kado berwana abu-abu berbentuk segi enam dari dalam keranjang, lalu ia memberikannya pada Suho. “aku fansmu.. kumohon terimalah hadiah dariku ini aku sudah menantimu semenjak awal debutmu, ku mohon” Milli menunduk tangannya maju kedepan mengharap Suho menerima hadiah darinya.
“ Gomawo” suho mengambil kotak itu sambil tersenyum. Milli alias Qory sangat senang ketika hadiah itu berpindah tangan. Buru-buru Qory beranjak dari Suho, ia takut kalau sampai Suho melihatnya meloncat-loncat girang. Sesampainya ia di sebuah ruangan seorang wanita memberikannya kode.
“Ssst... ssstt”
“ Oh, nona Milli terimakasih.. ini hadiah untukmu” Qory tersenyum girang pada wanita itu, ia mengeluarkan selembar uang ratusan kemudian memberikannya pada wanita bernama Milli tersebut. Dengan gerakan cepat kini mereka sudah keluar dari ruangan tersebut dengan pakainnya masing-masing.
Qory berlari ke tempat ia tadi meninggalkan Andre namun nihil pria itu tak ada di tempatnya. Berkali-kali Qory memanggil nama Andre namun pria itu tak kunjung datang. Hingga ringtone Hpnya berbunyi membuat Qory dengan cepat mengambil Hp di saku bajunya ia berharap orang itu adalah Andre. Benar saja ternyata ada satu pesan dari Andre.
from: Andre cowok cakep no. 1 dari belakang
gua tunggu deket pintu masuk, GPL...
gua tunggu deket pintu masuk, GPL...
Qory tersenyum senang. Yes tak lama lagi ia akan menonton
konser EXO untuk yang pertama kalinya secara langsung. Qory bergegas menuju
tempat Andre menunggu, ia tak mau orang yang sudah berbaik hati padanya kesal
karenanya.
MIND..... T-T
Dari awal konser sampai akhir semua orang pasti berteriak
memanggil-manggil idola mereka tak terkecuali Qory. Bahkan sampai pulang pun
Qory terus saja bercerita tentang konser padahal ia sendiri tahu kalau yang di
ajak ngobrol udah tahu alur ceritanya berhubung yang di ajak ngobrol itu nonton
konser bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Andre. Namun Andre paham, ia hanya
mengikuti alur cerita Qory.
“Qory lo tunggu di sini yah...! gua mau ambil motor dulu abis itu kita makan bareng di sana” Andre menunjuk ke arah sebuah gerobak soto di pinggir jalan yang tak jauh dari mereka. Qory mengangguk semangat, kapan lagi ia bisa di traktir Andre.
sambil menunggu Andre. Qory memilih untuk berkeliling tidak jauh dari tempatnya dan Andre tadi berdiri. Tiba-tiba matanya memandang ke arah tong sampah. Seakan tak percaya dengan penglihatannya. Qory berlari ke arah tong sampah itu, dengan cepat ia mengambil kotak di tong sampah tersebut. Setelah ia membolak-balikkan dan memeriksa isi kotak tersebut, ia semakin yakin ini adalah kado yang ia berikan pada Suho. Kakinya melemas membuatnya terduduk di lantai. Ia sangat kecewa dengan apa yang ia dapatkan hari ini.
“ Tidak aku bukan gadis cengeng!” Qory menyeka air matanya dengan kasar, mungkin lebih mirip orang yang lagi mengamplas kayu. Ia berdiri dengan sekuat tenaga walau perasaannya saat ini hancur bahkan lebih hancur di banding ketika ia di campakkan Wawan. Dengan sekuat tenaga ia lemparkan kado di hadapannya, kemudian kado tersebut ia injak-injak untuk melampiaskan kekesalannya sambil membayangkan kado itu adalah wajah Suho. ‘mengapa-mengapa? Mengapa kalian kejam padaku?; batin Qory, ia tak sadar air matanya sudah mengalir deras sedari tadi. Kemudian kekesalannya itu ia akhiri dengan membuang kado tersebut di tong sampah. Baru saja ia berbalik, mata sembabnya melotot melihat sosok Andre yang berdiri tepat di belakangnya.
“pakailah ini” Andre mengeluarkan sapu tangan berwarna biru langit dari balik jaketnya. “kau tetap cengeng ternyata..” Andre tersenyum pada Qory yang sudah selesai menyeka air mata.
“ sudahlah aku mau tidur, besok akukan harus berangkat ke Korea!” Qory berjalan mendahului Andre menuju motor yang terparkir manis di belakang pria bertubuh tinggi itu. Andre hanya menatap sendu punggung Qory. ‘jangan menangis.. aku tak mau jantungku kembali berdetak keras.. aku tak ingin melihatmu menangis ku mohon..’ Andre memegang dadanya, benar saja tempat itu kembali berdetak tak karuan. ‘aku tak mau nantinya aku sakit hati ketika kau pergi jauh dariku..’ Andre menggenggam erat sapu tangan bekas Qory dengan erat.
“Qory lo tunggu di sini yah...! gua mau ambil motor dulu abis itu kita makan bareng di sana” Andre menunjuk ke arah sebuah gerobak soto di pinggir jalan yang tak jauh dari mereka. Qory mengangguk semangat, kapan lagi ia bisa di traktir Andre.
sambil menunggu Andre. Qory memilih untuk berkeliling tidak jauh dari tempatnya dan Andre tadi berdiri. Tiba-tiba matanya memandang ke arah tong sampah. Seakan tak percaya dengan penglihatannya. Qory berlari ke arah tong sampah itu, dengan cepat ia mengambil kotak di tong sampah tersebut. Setelah ia membolak-balikkan dan memeriksa isi kotak tersebut, ia semakin yakin ini adalah kado yang ia berikan pada Suho. Kakinya melemas membuatnya terduduk di lantai. Ia sangat kecewa dengan apa yang ia dapatkan hari ini.
“ Tidak aku bukan gadis cengeng!” Qory menyeka air matanya dengan kasar, mungkin lebih mirip orang yang lagi mengamplas kayu. Ia berdiri dengan sekuat tenaga walau perasaannya saat ini hancur bahkan lebih hancur di banding ketika ia di campakkan Wawan. Dengan sekuat tenaga ia lemparkan kado di hadapannya, kemudian kado tersebut ia injak-injak untuk melampiaskan kekesalannya sambil membayangkan kado itu adalah wajah Suho. ‘mengapa-mengapa? Mengapa kalian kejam padaku?; batin Qory, ia tak sadar air matanya sudah mengalir deras sedari tadi. Kemudian kekesalannya itu ia akhiri dengan membuang kado tersebut di tong sampah. Baru saja ia berbalik, mata sembabnya melotot melihat sosok Andre yang berdiri tepat di belakangnya.
“pakailah ini” Andre mengeluarkan sapu tangan berwarna biru langit dari balik jaketnya. “kau tetap cengeng ternyata..” Andre tersenyum pada Qory yang sudah selesai menyeka air mata.
“ sudahlah aku mau tidur, besok akukan harus berangkat ke Korea!” Qory berjalan mendahului Andre menuju motor yang terparkir manis di belakang pria bertubuh tinggi itu. Andre hanya menatap sendu punggung Qory. ‘jangan menangis.. aku tak mau jantungku kembali berdetak keras.. aku tak ingin melihatmu menangis ku mohon..’ Andre memegang dadanya, benar saja tempat itu kembali berdetak tak karuan. ‘aku tak mau nantinya aku sakit hati ketika kau pergi jauh dariku..’ Andre menggenggam erat sapu tangan bekas Qory dengan erat.
TBC..
